Semua putra-putri Soeharto mempunyai kelompok bisnis. Di bidang-bidang mana saja mereka bermain? Di antara saudara-saudaranya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto paling banyak memiliki perusahaan transportasi dan otomotif. Menurut data yang dimiliki Warta Ekonomi, paling tidak ada 15 perusahaan yang dimilikinya.
Mungkin itu sebabnya dia punya hobi balap mobil. Walaupun yang belakangan ini sering dikomentari secara sinis, sebab tak banyak pengusaha lain yang bisa meluangkan waktu sebanyak Tommy untuk hobinya sementara dia harus mengurusi puluhan perusahaan. Setelah Tommy, putra Pak Harto lainnya yang paling banyak memiliki perusahaan transportasi adalah Sigit Harjojudanto.
Keduanya juga mempunyai arena bermain yang cukup merata di darat, laut, dan udara. Bedanya, Tommy memiliki kasus terkenal dengan Timor alias mobil nasionalnya, sedangkan Sigit relatif jarang dibicarakan. Urutan berikutnya adalah Bambang Trihatmodjo, yang memiliki enam perusahaan juga bermain di darat, laut, dan udara. Akan halnya Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), hanya memiliki satu perusahaan taksi yang disebutnya PT Citra Transpor Nusantara (Citra Taksi).
Sektor lainnya yang hampir dimiliki secara merata oleh putra-putri Pak Harto ini adalah keuangan dan investasi. Kecuali Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) dan Ari Harjo Wibowo alias Ari Sigit Soeharto (cucu Pak Harto dari Sigit Harjojudanto), semuanya memiliki perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan investasi ini. Yang paling menonjol adalah Sigit, dengan 11 perusahaan, disusul oleh Bambang (9 perusahaan), Siti Hediati Harijadi alias Titiek Prabowo (8 perusahaan), Tutut (6 perusahaan), dan Tommy (2 perusahaan).
Termasuk yang dimiliki oleh mereka adalah Bank Central Asia (BCA), yang belakangan ini sedang di-rush. Di bank ini, Sigit memiliki 16% saham dan Tutut 14%. Mayoritas saham bank ini dimiliki oleh Sudono Salim (23,16%), Andree Halim (23,15%), serta Anthony Salim (23,15%). Selain BCA, lembaga lain yang dimiliki Sigit adalah PT Asuransi Jiwa Central Asia, Bank LTCB Central Asia, Bank Umum Nasional (dibekukan BPPN), Bank Umum Tugu, Bank Utama, serta beberapa perusahaan lagi
Adapun Titiek, ia dikenal jago dalam bidang keuangan. Bekerja sama dengan profesional
Tito Sulistio, dia memiliki perusahaan-perusahaan sekuritas yang cukup punya nama, yakni PT Bhakti Investama dan PT Pentasena Arthasentosa. Di samping itu, dia juga memiliki tiga buah bank, yakni Bank Industri, Bank Putra Sukapura, dan Bank Universal. Perusahaan-perusahaan lainnya yang dimiliki di bidang ini adalah PT Aditya Matra Leasing, PT Gunung Ngadeg Djaja (perusahaan investasi), dan PT Maharani Intifinance.
Lain lagi dengan Mbak Tutut. Mantan Menteri Sosial ini dikenal jago di bidang konstruksi, terutama pembangunan jalan tol. Harus diakui, kinerja salah satu perusahaan milik Mbak Tutut, yakni Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), juga diakui di luar negeri. Beberapa jalan tol garapan CMNP diluar negeri, antara lain: Metro Manila Skyway & Expressway (Filipina) serta Wuchuan-Suixi-Xuwen (Cina). Tak salah kalau di bidang konstraksi Tutut memiliki perusahaan terbanyak dibanding saudara-saudaranya, yakni 12 perusahaan. Berikutnya adalah Bambang dan Tommy, yang sama-sama memiliki 7 perusahaan, lalu Ari Sigit (5 perusahaan), Sigit (2 perusahaan), dan Titiek (l perushaan).
Yang menarik, hampir semua putra-putri Pak Harto ini bergerak di empat bidang, yakni perdagangan, perkebunan, perkaynan (kehutanan), dan properti. Hanya Mamiek yang tidak memiliki perusahaan-perusahaan di keempat bidang tersebut. Untuk perdagangan dan perkebunan, yang paling dominan adalah Tutut (masing-masing 12 perusahaan), perkayuan didominasi Sigit (6 perusahaan), dan properti di-"raja"-i oleh Bambang dengan 7 perusahaan.
Beberapa putra dan cucu Pak Harto juga menjadi tokoh bisnis kontroversial. Beberapa yang menjadi catatan pers adalah pembentukan Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) oleh Tommy, proyek mobil nasional (Timor) juga oleh Tommy, labelisasi minuman keras (Ari Sigit), Chandra Asri (Bambang Trihatmodio), tata niaga sarang burung walet (Ari Sigit), tata niaga jeruk (Bambang Trihatmodjo), proyek penyeragaman sepatu nasional (Ari Sigit), dan boberapa lagi.
Tipe proyek kontroversial itu berciri pada proyek-proyek yang bersifat penugasan dan kemudahan fasilitas dari pemerintah. Tanpa harus menuduh mereka menggunakan tangan kekuasaan pun, tampaknya proposal mereka terlalu sukar untuk ditolak pemerintah. Bagaimanapun, nama Soeharto merupakan intangible asset yang tidak ternilai harganya. Dengan kata lain, nama ini merupakan modal dasar bagi mereka yang memilikinya dan ingin terjun ke dunia bisnis. DIANTARA PRO DAN KONTRA Tito Sulistio, seorang eksekutif profesional yang dikenal dekat dengan Tutut dan Titiek, tampaknya mempunyai pandangan yang lain di tengah hujan kritik yang sekarang sedang membanjiri putra-putri Soeharto. Menurut Tito, Tutut sebenarnya lebih banyak mempunyai rasa sosial yang tinggi ketimbang ingin mengambil untung sebanyak-banyaknya. "Kadang-kadang kalau sudah saya kalkulasi untung banyak, dia justru menyuruh kita agar mengurangi untungnya, karena menyangkut proyek negara," kata Tito kepada Warta Ekonomi.
Kesan Tito terhadap Titiek, pemilik PT Pentasena Artha sentosa,juga sama baiknya. Bagi Tito yang pernah lama menjadi eksekutif Pentasena ini, Titiek juga bertindak wajar-wajar saja. Demikian juga soal fasilitas. "Kalau kami lebih mudah mendapat akses, itu mungkin saja. Tapi tidak lantas keputusannya otomatis kan?" tambah Tito.
Kesan sebaliknya datang dari Anwar Nasution. Pengajar pada FEUI yang juga kritikus "berani mati" ini justru terang-terangan menuduh putra-putri Soeharto yang mengambil alih hak monopoli dari jasa-jasa publik. "Waktu hearing di DPR, dirut PLN mengatakan bahwa PLN terpaksa membeli listrik lebih mahal dari harga jual, karena dia harus membeli listrik dari salah satu perusahaan milik mereka," ujar Anwar. Begitu juga dengan Pertamina. Menurut Anwar, Pertarnima terpaksa harus membeli minyak dari tiga perusahaan swasta yang sebagian dimiliki putra-putri Soeharto.
Lalu, bagaimana peta bisnis keluarga Soeharto pascareformasi? Tampaknya jawabannya seperti yang sudah disetujui banyak masyarakat reformis, yakni transparansi. Artinya, jangan ada lagi pemasok-pemasok khusus yang justru menyebabkan inefisiensi. Kalau ada proyek, jangan hanya orang-orang tertentu saja yang dilibatkan.
"Tanpa Pak Harto? Yang pasti, kita selama ini selalu bekerja keras dan siap bertanding," kata Tito. Sementara itu, Bimantara, yang sudah gopublic, sebenarnya sudah berkali-kali menjawab pertanyaan seperti itu. "Yang penting, Bimantara dikelola secara profesional. Jadi, bagaimanapun guncanguya negeri kita, pasti tidak akan mempengaruhi jalannya perusahaan kita," ujar Bambang suatu ketika. Begitukah? Waktulah yang akan menjawabnya.